Naik Gila-gilaan: Ahli Prediksi Harga Emas Bisa Tembus Segini pada 2030

Naik Gila-gilaan: Ahli Prediksi Harga Emas Bisa Tembus Segini pada 2030

Ilustrasi: Ahli Prediksi Harga Emas 2030 Bisa Tembus US$10.000, Ini Penyebabnya-Belitong Ekspres/AI-

BELITONGEKSPRES.CO.ID - Prospek penguatan harga emas global dinilai makin kuat. Ketidakpastian ekonomi dunia yang belum reda, ditambah tensi geopolitik yang terus memanas, membuat emas kembali jadi pilihan utama sebagai aset lindung nilai.

Direktur Anugerah Mega Investama sekaligus Pengamat Pasar Modal Hans Kwee bahkan memproyeksikan harga emas dapat menembus US$10.000 per troy ons pada 2030. Angka ini jauh di atas level saat ini yang sudah berada di area rekor tertinggi.

Tidak hanya jangka panjang, Hans menilai pergerakan emas tahun ini juga berpotensi makin agresif. Ia memperkirakan harga emas bisa mencapai US$5.400 per troy ons dalam tahun berjalan, didorong kombinasi sentimen makro dan perubahan besar preferensi investasi global.

“Emas itu 2030 diperkirakan masuk ke 10.000 dolar AS per troy ons, tapi ini masih empat tahun lagi. Tahun ini saja targetnya 5.400,” ujar Hans Kwee dalam Edukasi Wartawan terkait Arah IHSG di Tengah Tensi Geopolitik dan Potensi Bubble AI di Jakarta, Jumat (23/1/2026).

BACA JUGA:Update Harga Emas Perhiasan 24 Januari 2026, Hartadinata Naik, Raja Emas Turun

Ketidakpastian Global Makin Tinggi, Emas Jadi Pelarian Investor

Menurut Hans, reli emas bukan terjadi tanpa alasan. Investor global kini semakin intens mencari instrumen aman karena kondisi ekonomi dunia masih rapuh.

Ia menyebut penguatan emas ditopang oleh beberapa faktor utama, seperti: perlambatan perekonomian global, kebijakan moneter longgar di sejumlah negara, ketegangan geopolitik yang meningkatkan risiko pasar.

Situasi tersebut mendorong investor kembali melihat emas sebagai aset yang relatif stabil saat kondisi dunia tidak pasti.

Dolar AS Dinilai Mulai Ditinggalkan, Emas Makin Dipegang

Hans juga menyoroti perubahan besar yang terjadi di pasar keuangan global. Ia menilai dolar AS mulai kehilangan daya tarik sebagai aset aman.

Menurutnya, setelah perang Rusia dan Ukraina, banyak negara mulai sadar bahwa aset dalam bentuk dolar memiliki risiko geopolitik yang tidak kecil.

BACA JUGA:Harga Emas Tak Terbendung, Pakar Prediksi XAUUSD Bisa Naik ke US$4.900

Ia memberi contoh dampak dari pembekuan aset Rusia yang memicu perubahan cara pandang negara-negara lain.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: investor.id