Harga Bitcoin Turun di Bawah US$ 88.000, Investor Kripto Siaga The Fed

Harga Bitcoin Turun di Bawah US$ 88.000, Investor Kripto Siaga The Fed

Ilustrasi: Investor memantau pergerakan Bitcoin lewat ponsel saat harga BTC turun di bawah US$ 88.000, jelang keputusan suku bunga The Fed yang dinanti pasar kripto-Belitong Ekspres/AI-

BELITONGEKSPRES.CO.ID - Harga Bitcoin (BTC) kembali melemah pada pekan terakhir bulan Januari 2026.

Mata uang kripto terbesar di dunia ini turun ke bawah level psikologis US$ 88.000, memperpanjang koreksi yang sudah membebani pasar selama sepekan terakhir.

Tekanan muncul saat pelaku pasar memilih bermain aman. Sentimen global ikut menahan minat risiko, terutama menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan meningkatnya kehati-hatian di pasar Asia.

BTC Turun ke US$ 87.800

Mengacu data CoinDesk, harga Bitcoin pada siang hari waktu Amerika Serikat diperdagangkan di sekitar US$ 87.800. Nilai ini turun sekitar 2% dalam 24 jam terakhir.

BACA JUGA:Harga Emas Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa, Pakar Prediksi Tembus US$ 5.150

Penurunan di bawah US$ 88.000 membuat pergerakan BTC terlihat rapuh. Banyak pelaku pasar menunggu katalis baru sebelum mengambil posisi besar, karena volatilitas bisa meningkat sewaktu-waktu.

Likuidasi Tembus US$ 224 Juta

Pelemahan Bitcoin juga memicu gelombang likuidasi di pasar derivatif. Dalam 24 jam terakhir, likuidasi posisi bullish tercatat mencapai US$ 224 juta.

Rinciannya dipimpin oleh kontrak berjangka Bitcoin dengan nilai sekitar US$ 68 juta. Sementara kontrak berjangka berbasis Ether juga ikut terpukul, dengan likuidasi sekitar US$ 45 juta.

Angka ini menggambarkan banyak trader sebelumnya berharap harga menguat. Namun tekanan jual datang lebih cepat, sehingga posisi long terpaksa ditutup otomatis.

BACA JUGA:Kredit Produktif Perbankan Tembus Rp6.096,2 Triliun di 2025, Ini 9 Sektor Penyerap Terbesar

Pasar Asia Waspada Yen

Tekanan pasar bukan hanya datang dari Amerika Serikat. Di Asia, para trader masuk pekan baru dengan kewaspadaan tinggi terkait kemungkinan intervensi pada yen Jepang.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi memperingatkan adanya pergerakan pasar yang tidak normal.

Menurut Bloomberg, lonjakan yen membuat pelaku pasar Asia lebih berhati-hati, meski belum ada konfirmasi resmi terkait tindakan intervensi.

Situasi ini ikut mendorong suasana risk-off, yang biasanya menekan aset volatil seperti kripto.

Fokus Suku Bunga The Fed

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: bloomberg