BI Checking Bisa Dilirik HRD, Gen Z Wajib Cek SLIK Sebelum Melamar Kerja
Ilustrasi cek laporan kredit sebelum melamar kerja kini jadi langkah yang layak masuk daftar persiapan Gen Z-Foto: Ist/BE-
TANJUNGPANDAN, BELITONGEKSPRES.CO.ID - BI Checking ternyata tidak melulu urusan bank saat kamu mengajukan KPR atau kredit motor.
Rekam jejak pembayaran yang tercatat di sana juga bisa ikut dilirik perusahaan tertentu ketika menyeleksi calon karyawan, terutama di sektor jasa keuangan.
Kabar ini mengemuka dari gerakan Healthy Credit Report, Brighter Future atau Laporan Kredit Sehat, Masa Depan Cerah yang digulirkan Cermati.com.
Platform agregasi jasa keuangan yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) itu mengajak anak muda lebih akrab dengan laporan kreditnya, bertepatan dengan Bulan Inklusi Keuangan 2026 dan Bulan Fintech Nasional (BFN).
Jadi, sebelum kamu sibuk memoles CV dan latihan wawancara, ada satu “dokumen” lain yang sebaiknya ikut dicek.
BACA JUGA:Limit Kartu Kredit BCA Berapa? Ada yang Mulai Rp1 Juta untuk Kartu Tambahan
Apa saja isinya, dan kenapa rekam jejak kredit bisa berpengaruh sampai ke urusan karier? Simak penjelasannya seperti dikutip dari disway.id.
Apa Itu BI Checking dan SLIK?
Istilah BI Checking kini lebih resmi dikenal sebagai Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).
Isinya adalah catatan riwayat pembiayaan sekaligus kedisiplinan seseorang dalam membayar kewajibannya. Dari catatan inilah tergambar bagaimana kebiasaan finansialmu selama ini.
Selama ini banyak anak muda baru ngeh soal pentingnya laporan kredit ketika mengajukan cicilan kendaraan atau rumah.
Padahal, menurut pemaparan Cermati, sejumlah perusahaan yang menerapkan prinsip Know Your Employee (KYE) juga mengecek BI Checking atau SLIK sebagai bagian dari background check calon pekerja.
BACA JUGA:KUR BCA 2026: Cek Simulasi Cicilan Rp100 Juta, Bunga 6%-9%, Ini Syarat dan Cara Ajukan
Melek Keuangan Tinggi, tapi Pemahamannya Masih Perlu Diperdalam
Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dikutip dalam gerakan ini menunjukkan indeks literasi keuangan kelompok usia 18–25 tahun berada di angka 73,32 persen. Sementara itu, tingkat inklusinya menembus 95,69 persen.
Selisih kedua angka itu menggambarkan satu hal: akses ke layanan keuangan sudah sangat terbuka, tetapi pemahaman untuk mengelolanya dengan bijak masih perlu dikejar.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: