Waspada! BNI Ingatkan Modus Penipuan Telepon, Pelaku Manfaatkan Kepanikan Nasabah

Waspada! BNI Ingatkan Modus Penipuan Telepon, Pelaku Manfaatkan Kepanikan Nasabah

Ilustrasi: BNI mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap penipuan telpon yang memanfaatkan kepanikan untuk mendapatkan data rahasia perbankan--Foto: Magnific

JAKARTA, BELITONGEKSPRES.CO.ID – Panggilan telepon yang mengabarkan rekening bermasalah atau transaksi mencurigakan bisa menjadi awal modus penipuan mengatasnamakan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI.

BNI mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya. Pelaku sengaja memanfaatkan kepanikan nasabah untuk mendorong korban mengikuti instruksi tanpa sempat memeriksa kebenaran informasi.

Modus ini biasanya menggunakan identitas pihak bank untuk membangun kepercayaan. Pelaku kemudian menyampaikan kabar tentang dugaan penyalahgunaan rekening, pemblokiran kartu, atau aktivitas transaksi yang tidak dikenal.

Setelah korban mulai panik, pelaku menawarkan bantuan seolah-olah sedang menyelesaikan masalah. Pada tahap ini, korban bisa diarahkan untuk memberikan informasi rahasia, membuka tautan, mengunduh aplikasi, hingga melakukan transaksi tertentu.

BACA JUGA:KUR BNI 2026: Cek Angsuran Pinjaman Rp100 Juta Tenor 1-5 Tahun Berikut Cara Ajukan

Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, mengatakan tekanan psikologis menjadi salah satu cara yang dimanfaatkan pelaku untuk mengendalikan keputusan korban.

"Jangan mudah percaya pada panggilan yang mengatasnamakan bank, terutama jika disertai tekanan untuk segera mengambil tindakan. Jangan panik dan jangan terburu-buru mengikuti instruksi penelepon," ujar Okki dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (7/11/2026).

Ia meminta masyarakat tetap tenang dan memeriksa informasi melalui saluran resmi BNI. Nasabah juga diingatkan agar tidak membagikan data rahasia perbankan kepada siapa pun.

Modus Penipuan Dimulai dari Kabar Rekening Bermasalah

Dalam menjalankan aksinya, pelaku dapat menggunakan berbagai alasan untuk membuat nasabah merasa terancam.

Misalnya, penelepon mengaku menemukan transaksi mencurigakan, menyampaikan rekening akan diblokir, atau memberitahukan adanya penyalahgunaan kartu dan gangguan keamanan akun.

BACA JUGA:BNI Masuk Top 4 BUMN Layanan Terbaik di CX100 Award 2026

Untuk meyakinkan korban, pelaku kemudian meminta data pribadi, kode verifikasi, atau mengarahkan korban mengakses tautan dan aplikasi tertentu.

Pola komunikasi tersebut juga dapat memanfaatkan teknik persuasi, termasuk pendekatan yang dikaitkan dengan Neuro-Linguistic Programming (NLP).

Dalam konteks penipuan, penggunaan bahasa dan tekanan emosional dapat diarahkan untuk membangun kepercayaan, menciptakan rasa takut, serta membuat korban merasa harus segera bertindak.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: