1. Hitung pemasukan bersih harian
- Jika pemasukan bersih Rp 200 ribu per hari, cicilan idealnya maksimal 20 persen atau sekitar Rp 40 ribu per hari. Ini pas untuk plafon sekitar Rp 50 juta.
2. Sesuaikan dengan kebutuhan riil
- Ambil sesuai kebutuhan usaha, bukan karena tergiur plafon besar. Kebutuhan kecil dengan pinjaman kecil jauh lebih menenangkan.
3. Perhatikan margin usaha
- Usaha margin tipis seperti sembako sebaiknya memilih cicilan kecil agar laba tidak terkikis.
4. Pilih tenor panjang saat modal terbatas
- Tenor 5 tahun membuat cash flow lebih longgar, terutama bagi usaha yang masih merintis pasar.
5. Siapkan dana darurat
- Minimal simpan dana setara 1 sampai 2 bulan cicilan sebagai bantalan saat omzet turun.
Bisakah Cicilan Bisa Lebih Rendah dari Tabel
Bisa, jika tenor dipilih maksimal dan plafon tidak terlalu besar. Sebaliknya, jika tenor dipersingkat, cicilan otomatis naik. Beberapa bank penyalur juga kadang memberi keringanan biaya administrasi yang membuat total beban pinjaman terasa lebih ringan.
Bagi UMKM yang mengincar cicilan seringan mungkin, skema 60 bulan seperti tabel di atas adalah opsi paling aman, terutama untuk usaha yang masih mencari kestabilan omzet.
BACA JUGA:Tabel Angsuran KUR BRI November 2025: Pinjaman Rp50 Juta Hingga Rp100 Juta Bunga Ringan
Tabel angsuran KUR BRI 2025 plafon Rp 5–500 juta memberi gambaran utuh tentang cicilan bulanan dan harian. Dengan cicilan mulai dari Rp 3 ribuan per hari, KUR tetap menjadi akses modal paling ramah bagi pelaku UMKM berbasis pemasukan harian.
Selama perhitungan dilakukan dengan jujur dan disiplin dijaga, KUR bukan sekadar pinjaman. Pinjaman ini adalah tangga kecil menuju usaha yang lebih besar, satu cicilan demi satu. Semoga bermanfaat!***