BELITONGEKSPRES.CO.ID - Platform investasi palsu kini tampil makin meyakinkan. Desainnya rapi, tampilannya profesional, bahkan lengkap dengan layanan pelanggan.
Di balik itu, tersimpan modus penipuan baru yang bikin korban sulit membedakan mana yang asli dan mana yang jebakan.
Fenomena ini terungkap dalam laporan media Timur Tengah, termasuk Gulf News. Perusahaan keamanan siber Kaspersky mencatat lebih dari 100.000 upaya penipuan.
Untungnya, upaya penipuan yang meniru situs investasi resmi berhasil diblokir sejak 2024 di Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, dan Mesir. Angka itu bukan sekadar statistik, itu alarm.
BACA JUGA:Viral! Influencer Kehilangan 140 Ribu Followers usai Beauty Filter Mati Saat Live
BACA JUGA:HP Gaming Baterai Jumbo, iQOO 15R Andalkan Performa Snapdragon 8 Gen 5
Tampilan Profesional, Untung Fiktif
Banyak situs palsu kini hadir dengan dasbor yang terlihat meyakinkan. Antarmuka dibuat dalam bahasa lokal, lengkap dengan grafik naik turun, notifikasi transaksi, hingga layanan dukungan pelanggan palsu.
Korban diarahkan melalui iklan media sosial, pesan pribadi, atau bahkan telepon tak dikenal. Pendekatannya halus. Persuasif. Seolah-olah resmi.
Setelah dana disetor, korban akan melihat “keuntungan” muncul di layar. Angkanya bertambah. Grafiknya naik. Padahal tidak ada perdagangan nyata yang terjadi. Semua hanya simulasi.
“Penipuan daring telah menjadi semakin canggih karena penjahat siber menginvestasikan upaya signifikan untuk membuatnya tampak otentik,” kata Olga Altukhova, Analis Konten Web Senior Kaspersky, dikutip Minggu (1/3/2026).
BACA JUGA:Mau Saldo DANA Gratis Rp200.000? Begini Cara Klaim Lewat Kode Referral 2026
BACA JUGA:Motif Penyelundupan Timah Ilegal Beltim ke Malaysia Terungkap, Dari Rp180 Ribu Jadi Rp900 Ribu
Menurutnya, pelaku sangat mengandalkan taktik membangun kepercayaan. Detail kecil sering diabaikan korban. Padahal di situlah kuncinya.
“Mereka mengandalkan kepercayaan sebagai jalan masuk mereka. Poin pentingnya adalah memperhatikan detail dasar seperti domain situs web, kesalahan ejaan, metode pembayaran, dan tanda-tanda enkripsi yang aman sebelum membagikan data apa pun atau menginvestasikan uang,” ujarnya.
Label “Halal” Jadi Umpan Baru
Yang bikin makin licin, sebagian platform palsu mulai memakai label “halal” atau “investasi Islami”. Isyarat budaya dan etika ini dipakai untuk membangun legitimasi instan.