JAKARTA, BELITONGEKSPRES.CO.ID – Industri perbankan nasional mulai memperketat prinsip kehati-hatian (prudential banking) di tengah meningkatnya risiko geopolitik global tahun 2026.
Eskalasi konflik Iran–Israel yang melibatkan Amerika Serikat dinilai berpotensi menekan stabilitas ekonomi, terutama melalui lonjakan harga energi dan volatilitas pasar keuangan.
Di tengah tekanan eksternal tersebut, perbankan Indonesia memilih memperkuat manajemen risiko untuk menjaga stabilitas sektor keuangan tetap terjaga.
Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) yang juga Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia atau BRI (Persero) Hery Gunardi, menegaskan bahwa dinamika global saat ini memang meningkatkan tekanan terhadap sektor keuangan.
BACA JUGA:Kisah Ayam Panggang Bu Setu, Kuliner Favorit Magetan yang Sukses Berkat Dukungan BRI
Menurutnya, dampak utama berasal dari kenaikan harga energi serta fluktuasi pasar yang bisa memengaruhi stabilitas ekonomi domestik.
“Kami melihat risiko global meningkat, terutama melalui transmisi kenaikan harga energi dan volatilitas pasar keuangan,” ujar Hery Gunardi dalam keterangan resminya.
Meski demikian, kondisi fundamental perbankan nasional masih tergolong solid.
Fundamental Perbankan Masih Kuat
Di tengah ketidakpastian global, indikator utama perbankan domestik tetap berada pada level yang sehat.
Pertumbuhan kredit masih terjaga. Likuiditas berada dalam kondisi memadai. Permodalan juga dinilai kuat untuk menyerap potensi risiko.
BACA JUGA:BRI Salurkan KPR Subsidi Rp16,79 Triliun, 122 Ribu Warga Sudah Punya Rumah
Hal ini menjadi modal penting bagi industri perbankan untuk tetap menjalankan fungsi intermediasi, yaitu menyalurkan kredit ke sektor riil tanpa mengabaikan stabilitas.
Untuk mengantisipasi risiko yang lebih luas, perbankan mulai memperkuat berbagai langkah mitigasi.
Salah satunya melalui stress test sektoral. Uji ketahanan ini difokuskan pada sektor-sektor yang paling rentan terhadap kenaikan harga energi, seperti transportasi, logistik, dan manufaktur.
Selain itu, early warning system juga diperkuat guna mendeteksi potensi penurunan kualitas kredit sejak dini.