Maras Taun Jadi Penjaga Identitas Beltim, Wabup Ajak Warga Rawat Warisan Leluhur
POTONG LEPAT GEDE: Maras Taun Jadi Penjaga Identitas Beltim, Wabup Ajak Warga Rawat Warisan Leluhur-Muchlis Ilham/BE-
SIMPANG PESAK, BELITONGEKSRES.CO.ID – Tradisi Maras Taun kembali menegaskan perannya sebagai penopang identitas budaya masyarakat Belitung Timur, sekaligus ruang kebersamaan yang terus dijaga lintas generasi.
Wakil Bupati Belitung Timur, Khairil Anwar, mengajak masyarakat untuk tidak hanya mempertahankan, tetapi juga merawat dan mewariskan tradisi tersebut agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Ajakan itu disampaikan saat menghadiri perayaan Maras Taun di Dusun Aik Membalun, Desa Tanjung Kelumpang, Kecamatan Simpang Pesak, Minggu, 21 Juni 2026.
Khairil mengapresiasi konsistensi masyarakat dan para tokoh adat yang terus menjaga keberlangsungan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
BACA JUGA:Gerakan One Family One Quran Dapat Dukungan Wabup Beltim, Jamaah Membludak di Selinsing
Menurutnya, Maras Taun bukan sekadar ritual tahunan, melainkan bagian penting dari jati diri masyarakat yang sarat nilai kebersamaan, rasa syukur, dan kearifan lokal.
“Tradisi ini memperkuat identitas daerah sekaligus memperkaya budaya bangsa. Karena itu, kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjaganya,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak hanya menjadi tugas tokoh adat, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat, termasuk generasi muda.
Tanpa keterlibatan aktif generasi penerus, tradisi yang ada dikhawatirkan akan perlahan memudar.
Khairil juga mengaitkan pelestarian budaya dengan arah pembangunan daerah yang tertuang dalam visi Belitung Timur 2025 hingga 2030.
BACA JUGA:Subsidi Iuran 50 Persen, BPJS Ketenagakerjaan Genjot Perlindungan Pekerja Informal di Beltim
Menurutnya, pembangunan masyarakat berbudaya menjadi fondasi penting dalam mewujudkan daerah yang nyaman dan berkemajuan.
Selain memiliki nilai budaya, Maras Taun dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata berbasis kearifan lokal.
Pengembangan tersebut diyakini dapat memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat tanpa menghilangkan nilai sakral yang terkandung di dalamnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: