Gawing Pastikan Penanaman Mangrove Sesuai Prosedur

Gawing Pastikan Penanaman Mangrove Sesuai Prosedur

BEITONGEKSPRES.CO.ID, MANGGAR - Pendamping Desa untuk Program PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional) rehabilitasi mangrove di Desa Pulau Buku Limau Kecamatan Manggar, Muhammad Gawing (45) pastikan penanaman mangrove berjalan sesuai prosedur. Pernyataan Gawing merupakan jawaban atas komentar Kepala Desa Pulau Buku Limau Muhlisin beberapa waktu lalu terkait mempertanyakan keberadaan dirinya dalam program PEN rehabilitasi penanaman mangrove seluas 95 hektar di Desa Pulau Buku Limau tahun 2021. Kepada Belitong Ekspres, Gawing menceritakan bagaimana dirinya bisa dilibatkan sebagai Pendamping Desa pada program tersebut. Awalnya, ia diminta mengajukan permohonan sebagai Pendamping Desa oleh kenalannya di BPDAS Pangkal Pinang. "Sebenarnya, saya mengajukan sebagai pengawas kelompok atau Pendamping Desa (karena ) ada kawan yang ngajak dari BPDAS, kawan dari Toraja orang Bugis. Jadi mengajukan ke BPDAS, akhirnya Alhamdulillah diterima, diberi tugas sebagai Pendamping Desa mangrove pada bulan Agustus SK nya 2021," ungkap Gawing, Selasa (22/2) lalu. Diakui Gawing, SK yang diterimanya menempatkan dirinya sebagai Pengawas Desa Program PEN di Desa Lalang dan Padang. Hal ini sempat didebat Gawing karena beranggapan dirinya lebih tepat ditugaskan di Desa Pulau Buku Limau, yang menjadi tempat tinggalnya. "Jadi pendampingan di SK sebenarnya bukan di Desa Buku Limau tapi di Desa lain, maunya saya langsung lah di Buku Limau biarlah karena saya tinggal di Buku Limau sebagai warga Buku Limau," kata Gawing yang kesehariannya juga tercatat sebagai tenaga honorer Kantor Kecamatan Manggar. Sebagai Pendamping Desa Program PEN untuk Desa Pulau Buku Limau, Gawing mengakui dirinya harus bolak balik Manggar - Pulau Buku Limau ketika ada tugas pendampingan. "Peran saya intinya saya bolak balik ke Manggar, jadi setiap bibit datang atau penanaman saya arahkan jangan sampai lalai dalam pekerjaannya. Misalnya pengangkutan, bagi-bagilah sama (pemilik) perahu yang lain," sebut Gawing. Menurut Gawing, dirinya menjalankan tugas sesuai tanggungjawabnya sebagaimana yang tertuang didalam SK. Antara lain penataan ruang, melakukan sosialisasi kepada kelompok masyarakat, memfasilitasi pertemuan desa, membentuk penguatan kelembagaan kelompok dan menyusun laporan. "Serta melaksanakan kegiatan lain sesuai dengan arahan penanggungjawab rehabilitasi mangrove. Itulah yang menjadi tugas pokok pengawas Desa," ujar Gawing. Untuk prosedur pekerjaan penanaman mangrove, Gawing mengaku berjalan sesuai rancangan teknis (rantek). Diantaranya pembelian bibit, ajir (pancang), HOK, sewa perahu dan kebutuhan lainnya. Gawing mengatakan bibit mangrove yang ditanam di Desa Pulau Buku Limau didapatkan dari pembibit langsung yakni di Damar dan Kelapa Kampit. Belakangan juga ditambah dari pembibitan mangrove di Manggar. Banyaknya jumlah bibit yang harus disediakan berbanding luas lahan, menyebabkan keterlambatan penanaman karena bibit dikirim secara berangsur-angsur. Karena alasan jumlah bibit yang banyak pula, Gawing mengaku ada sebagian bibit tanpa polibag dengan alasan biar memudahkan saat dibawa menuju pulau. "Benar itu (bibit tanpa polibag), ada bibit yang polibag. Tapi kalau orang perahu jahil tidak mau pakai polibag, dilepas polibag. Mesannya kan harus ada polibag tapi karena berat ngangkutnya (dilepas polibag)," ujar Gawing. Gawing juga mengakui penanaman mangrove di Desa Pukau Buku Limau masih berlangsung sampai bulan Januari 2022. Namun hal itu bukan tanpa alasan, sebab menurut Gawing pengangkutan menuju pulau tentu berhadapan dengan situasi cuaca di laut. "Sebenarnya harus jadi (selesai) akhir 2021 tapi karena berhubung kami kendala di laut, air pasang, gelombang faktor angin jadi kelompok belum berani mengangkut bibit ke pulau menunggu reda. Jadi itulah akhirnya telat sampai bulan masuk akhir tahun," jelas Gawing. Gawing juga menceritakan, setiap progres pekerjaan selalu disampaikan ke Koordinator Lapangan (korlap). Hanya saja, progres yang mereka sampaikan bukan berupa laporan tertulis melainkan hanya foto-foto kegiatan penanaman. "Pembuatan laporan langsung dari korlap, kami hanya menyamlaikan laporan-laporan misalnya foto. (Korlap) Pak Jem, orang BPDAS Bangka Belitung," ujar Gawing. Gawing juga membenarkan pembuatan buku rekening untuk kelompok dan masing-masing anggotanya langsung di bank. Ia pun membenarkan buku rekening dan kartu ATM dikumpulkan kembali oleh bendahara kelompok setelah setelah pembuatan rekening selesai. "Kami waktu kelompok membuka rekening ke bank, dipanggil ramai-ramai. Jadi prosedur Ketua Kelompok karena ini harus dilaporkan (ke BPDAS) orang (anggota kelompok) kita kan buru-buru mau ke Pulau, setorlah (serahkan) dulu. Mau di scan mau dilaporkan ke BPDAS," jelas Gawing. Soal kenapa buku rekening tidak dipegang masing-masing Anggota Kelompok, Gawing menyebut ada kekhawatiran ketika uang masuk rekening justru diambil anggota meskipun tidak bekerja. Biar aman, buku rekening dan kartu ATM sementara disimpan bendahara sambil tetap dikeluarkan uangnya sesuai progres pekerjaan. "Kemarin rencana diberi saran ketua kelompok setiap yang mau ambil (buku rekening) silahkan tapi kita nunggu dana dari kelompok masuk disitu termasuk HOK. tapi berhubung HOK dibayar pakai duit pribadi atau sisa belanja bahan tidak mungkin diberikan (ke anggota) nanti diambilnya habis HOK nya, jadi (Ketua) nalangi itu," sebut Gawing. Sementara itu, Ketua Kelompok Buku Limau Tangguh Amirudin (Ilek) mengaku kelompoknya melakukan penanaman mangrove khusus di Pulau Siadong (salah satu gugusan Desa Pulau Buku Limau) seluas 35 hektar. Bibitnya mereka dapatkan dari Damar (pembibitan pemuda Damar) dan Kelapa Kampit (saudara Tetep). Amirudin memastikan, pembelian bibit mangrove di dua tempat tersebut tanpa perantara. Artinya ketika ada bibit, langsung dibayar oleh bendahara kelompoknya. "Per bibit Rp 1.800, separuh ada yang pakai polibag separuh juga ada tidak pakai polibag," ujar Amirudin. Seingat Amirudin, rekening kelompoknya menerima uang sebesar Rp 700 juta yang dikirimkan sebanyak dua kali yakni pertama sekitar Rp 350 juta dan sisanya masuk setelah pekerjaan selesai. (msi)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: