Ubur-Ubur Rezeki Pandemi, Sanem: Perputaran Uang Rp 2 Miliar Per Hari

Ubur-Ubur Rezeki Pandemi, Sanem: Perputaran Uang Rp 2 Miliar Per Hari

belitongekspres.co.id, TANJUNGPANDAN - Potensi kekayaan laut Belitung tetap menjadi ladang rejeki bagi masyarakat di tengah pandemi Covid-19 saat ini.

Seperti pengolahan ubur-ubur yang dilakukan di pesisir Pantai Dusun Teluk Dalam, Desa Juru Seberang, Tanjungpandan. Perputaran uangnya juga pantastis, bisa miliar rupiah perhari.

Hal itu disampaikan Bupati Belitung, H Sahani Saleh usai meninjau lokasi Penampung ubur-ubur di Pantai Dusun Teluk Dalam, Desa Juru Seberang, Rabu (14/7). Peninjauan lokasi didampingi Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Belitung Mohamad Iqbal beserta jajaran.

"Di tengah-tengah pandemi Covid-19 ini dan ditambah cuaca yang kurang bagus, tetapi hasil laut Belitung tetap memberikan ladang rezeki. Belitung memang pulau rahmatan lil alamin, alhamdulillah ade rezeki ubur-ubur," kata Bupati Belitung kepada Belitong Ekspres.

Menurut Bupati yang akrab disapa Sanem, adanya ubur-ubur di Belitung telah memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama para nelayan dan pesisir. Setidaknya perhari ada sekitar 300 hingga 400 perahu nelayan yang mengambil ubur-ubur tersebut.

Kemudian, adanya ubur-ubur ini bisa menyerap tenaga kerja, seperti pengangkut, pembersihan dan lain-lainnya yang berjumlah sekitar 500 tenaga kerja. Apalagi di lokasi itu ada sekitar 4 perusahaan sebagai pengumpul ubur-ubur tersebut.

"500 tenaga kerja ini, misalnya tukang pikul satu kali pikul di upah Rp 5 ribu, dan rata-rata perhari minimal 100 pikul, artinya Rp 500 ribu, sedangkan satu bot satu keranjang harge Rp 23 ribu, dan lain-lainya. Jadi minimal perputaran uang di wilayah ini perhari sekitar Rp 2 miliar," jelas Sanem.

Ditambahkan Sanem, potensi ini hadir karena selama ini masyarakat tidak merusak alam laut. Sebab, kalau dirusak tidak akan mungkin ubur-ubur itu akan datang.

"Kami dari pemerintah memandang ini ekonomi jalan dengan potensi alam yang ada, sosial juga jalan, dan tetap menerapkan protokol kesehatan," katanya.

Kedepannya kata dia, Pemkab Belitung akan menyiapkan ekspor langsung ke negara tujuan dan tidak lagi ke daerah lain. "Ini kami lakukan untuk menekan biaya operasional ekspor ubur-ubur tersebut," tandasnya.

Yitno, salah satu pengelolah ubur-ubur mengatakan, ubur-ubur itu dibawa ke Surabaya dan diekspor ke China, Jepang dan negara-negara lainnya. "Ubur-ubur ini buat makanan di sana," ungkap Yitno kepada Belitong Ekspres.

Kata dia, biasanya musim ubur-ubur setiap tahun. Namun, di Kabupaten Belitung terakhir diambil musim di tahun 2014 dan tahun 2021 ini. Untuk pengambilan ubur-ubur musimnya berlangsung selama 3 bulan.

Semenara itu, nelayan pengambil ubur-ubur Jeri mengatakan, musim ubur-ubur sudah berlangsung 2 hingga 3 minggu. Ia biasa mengambil perhari hingga 3 kali dan mendapat hasil sekitar 100 keranjang satu kali angkut.

"Rutin pergi tiap hari, sehari sampai 3 kali sehari, kalau jauh palingan kali perhari," kata Jeri.

Ia menuturkan, pengambilan ubur-ubur setelah 7 tahun lalu baru bisa dilakukan. Meski sebenarnya setiap tahun itu selalu ada ubur-ubur, namun tahun lalu harga garam dan lain-lainnya mahal, sehingga tidak ramai seperti sekarang ini.

"Upah mikul Rp 5 ribu satu keranjang dan harge jual ubor ubor satu keranjang Rp 23 ribu," tukasnya. (dod)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: