Pembelajaran Konkret: Jurus Jitu Manfaatkan Rasa Ingin Tahu Anak Usia Dini

Pembelajaran Konkret: Jurus Jitu Manfaatkan Rasa Ingin Tahu Anak Usia Dini

Eliyani--

Oleh: Eliyani, S.Pd, AUD (Kepala TK Negeri Pembina Dendang)

RASA ingin tahu yang tinggi merupakan naluri alamiah yang dimiliki oleh anak usia dini. Mereka adalah pembelajar aktif dengan keinginan mengekplor banyak hal dan cenderung meniru apa yang dicontohkan oleh orang di sekitarnya. Anak Usia Dini bagaikan kertas putih dimana isi dari kertas itu terrgantung pada bagaimana stimulasi itu kita berikan padanya. Oleh karenanya sangat penting untuk memberikan pembelajaran langsung  yang berpusat pada anak usia dini. pembelajaran yang dimaksud adalah pembelajaran kontekstual sesuai dengan usia mereka dan dapat dilakukan dengan memanfaatkan benda atau lingkungan nyata atau konkret. 

Pembelajaran konkret sendiri merupakan salah satu kecenderungan belajar untuk anak usia dini. Pembelajaran ini adalah pembelajaran yang memanfaatkan pancaindra anak usia dini dalam mengeksplore pengetahuan yang dimiliki. Artinya kecenderungan pembelajaran ini dilakukan untuk media yang dapat diraba, dicium, dilihat, serta di otak-atik. Kemudian Pembelajaran konkret ini juga memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga lebih nyata, lebih factual, lebih bermakna dan kebenarannya lebih dapat dipertanggung jawabkan.

Sebagai pendidik ataupun orang tua anak usia dini, kita dapat menerapkan pembelajaran konkret ini dimulai dengan memperkenalkan lingkungan sekitar. Anak usia dini seperti yang sudah dikatakan sebelumnya cenderung memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Tugas kita adalah memanfaatkan rasa ingin tahu tersebut dengan memberikan stimulus terhadap lingkungan sekitar. Misalnya saja, kita dapat mengunjungi suatu tempat dan memperkenalkan pekerjaan-pekerjaan yang ada ditempat tersebut. Hal ini akan memicu anak usia dini untuk membangun gambaran terhadap pekerjaan yang hendak dilakukan nantinya kedepan, dengan kata lain mengenalkan cita-cita kepada mereka. Tidak hanya itu, kita juga dapat mengunjungi suatu tempat spesifik untuk mengenalkan kegiatan sosial dan lain sebaginya. Hal ini tentu dilakukan untuk menumbuhkan kepedulian anak terhadap lingkungan sosial dan masyarakat sekitar. 

BACA JUGA:Penyimpangan Senioritas di Dunia Pendidikan

Pengenalan lingkungan konkret tersebut sudah dilakukan oleh TK Negeri Pembina Dendang dengan melakukan kunjungan ke salah satu hotel. Bertujuan untuk untuk memberi penguatan sikap, pengetahuan dan keterampilan kepada anak usia dini, hasil kegiatan tersebut sungguh sangat luar biasa. Anak merasa sangat senang dan antusia dalam mengikuti kegiatan tersebut. Mereka juga memiliki semangat yang sangat tinggi untuk mengetahui pekerjaan yang ada dihotel tersebut.

Mereka bertambah antusias saat diajak berkeliling hotel dan sekitarnya serta mengenalkan jenis pekerjaan dan fasilitas apa saja yang ada disekitar hotel tersebut. Anak-anak diajak berbaris sebanyak tiga baris untuk supaya lebih tertib dan teratur dalam mengikuti kegiatan nanti, kemudian anak-anak diperkenalkan dan mencoba untuk masuk ke dalam lift untuk menuju kamar-kamar hotel yang akan mereka kunjungi. Anak-anak di perkenalkan dengan benda-benda atau barang-barang yang ada di hotel serta diajarkan bagaimana cara untuk merapikan tempat tidur, membersihkan kamar dan menggunakan peralatan yang ada dikamar hotel oleh para pegawai-pegawai hotel yang telah di tunjuk untuk membimbing anak-anak tersebut.

Kegiatan tersebut terkesan sederhana namun memberikan efek yang tidak main-main. Banyak dari anak yang merasa tertarik untuk bekerja di hotel ataupun membiasakan diri agar dapat membereskan tempat tidurnya sendiri. Hal-hal seperti inilah yang kita bersama harapkan untuk dimiliki oleh anak usia dini. Pembelajaran mereka bukan hanya pembelajaran kognigitif namun juga pembelajaran karakter namun harus di buat secara lebih ringan dan menyenangkan. Sebagai seorang pendidikan kita wajib untuk menemukan hal-hal menarik agar pembelajaran anak usia dini semakin menyenangkan. 

Kemudian kecenderungan belajar anak sebenarnya tidak hanya pembelajaran konkret, namun juga pembelajaran integratif dan hirarkis. Kencenderungan belajar Integratif adalah kecenderungan pembelajaran dengan memperhatikan sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu, hal ini melukiskan cara berpikir anak yang deduktif. Kecenderungan ketiga adalah kecenderugan pembelajaran hierarkis yaitu cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan keluasan serta kedalaman materi.

BACA JUGA:Refleksi Kurikulum Merdeka: Guru Loss Everything

Dengan memperhatikan karakter tersebut, maka anak usia dini belajar dengan caranya sendiri. Bermain merupakan cara belajar yang sangat penting bagi anak usia dini. Sering guru dan orang tua mengajarkan anak sesuai dengan jalan pikiran orang dewasa, seperti melaarang anak untuk bermain. Akibatnya apa yang diajarkan orang tua sulit diterima anak dan banyak hal yang disukai oleh anak dilarang oleh orang tua. Sebaliknya banyak hal disukai orang tua tidak disukai oleh anak.  Untuk itu orang tua dan guru anak usia dini perlu memahami hakikat perkembangan anak dan hakikat PAUD agar dapat memberi pendidikan yang sesuai dengan jalan pikiran anak.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: