Harga Emas 2026 Kian Cerah, Bank Global Prediksi Cetak Rekor Tertinggi
Ilustrasi: Harga Emas 2026 Kian Cerah, Bank Global Prediksi Cetak Rekor Tertinggi--(freepik)
BELITONGEKSPRES.CO.ID – Prospek harga emas pada 2026 dinilai masih sangat cerah. Sejumlah bank investasi global memprediksi reli emas belum akan berakhir dan berpeluang mencetak level tertinggi baru.
Dorongan utama datang dari arah kebijakan moneter Amerika Serikat, pembelian agresif bank sentral, serta meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Mengutip Mining.com, Rabu 7 Januari 2026, Morgan Stanley dalam laporan terbarunya memperkirakan harga emas bisa naik hingga US$ 4.800 per troy ons sepanjang tahun ini.
Analis Morgan Stanley mencatat, kombinasi sentimen suku bunga AS dan risiko geopolitik telah mendorong harga emas menembus sejumlah rekor. Puncak terakhir tercatat di level US$ 4.549,71 per troy ons, dengan kenaikan kumulatif sekitar 65 persen.
BACA JUGA:Harga Emas Diprediksi Meroket 2026, Analis UBS Bocorkan Target Fantastis
BACA JUGA:Prediksi IHSG Kamis 8 Januari 2026, Waspada Profit Taking dan Cek Saham Rekomendasi
Kenaikan tajam tersebut dinilai belum selesai. Morgan Stanley melihat momentum bullish emas masih kuat dan berpotensi berlanjut sepanjang 2026.
Ketegangan politik di Venezuela disebut menjadi salah satu pemicu meningkatnya permintaan emas. Situasi geopolitik yang tidak stabil mendorong investor kembali memburu aset aman.
Pandangan serupa juga disampaikan Bank of America. Lembaga keuangan asal Amerika Serikat itu menilai emas tetap menjadi instrumen lindung nilai utama di tengah ketidakpastian global.
Kepala Riset Logam Bank of America, Michael Widmer, memproyeksikan harga rata-rata emas pada 2026 berada di kisaran US$ 4.538 per troy ons.
BACA JUGA:IHSG Pecah Rekor Tertinggi, 5 Saham Ini Terbang hingga 34%
BACA JUGA:5 Aplikasi Penghasil Uang 2026, Cuan Saldo DANA Sambil Rebahan
Menurut Widmer, emas terus menunjukkan perannya sebagai aset safe haven sekaligus sumber alpha di tengah pasar yang semakin volatil.
Ia menilai kondisi pasar emas semakin ketat. Sensitivitas pendapatan di sektor ini juga dinilai masih sangat kuat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: