Penyebab Harga Emas Terus Meroket di 2026 Terungkap

Penyebab Harga Emas Terus Meroket di 2026 Terungkap

Ilustrasi: Harga emas terus menguat saat dolar AS tertekan, mencerminkan pergeseran investor ke aset safe haven-Ist-

BELITONGEKSPRES.CO.ID - Harga emas dunia terus mencetak rekor baru di awal 2026. Logam mulia ini melanjutkan reli panjang yang sudah berlangsung sejak tahun lalu.

Bahkan kini memasuki fase yang jauh lebih agresif. Pada Senin, 26 Januari 2026, harga emas global untuk pertama kalinya menembus level US$5.000 per troy ounce.

Jika dikonversi ke rupiah, nilainya setara sekitar Rp84,9 juta untuk 31,1 gram. Pencapaian ini bukan sekadar angka psikologis.

Lonjakan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa emas kembali menjadi pilihan utama investor global di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik dunia.

BACA JUGA:6 Tips Aman Investasi Emas 2026 Saat Harga Tinggi, Strategi Cerdas Lindungi Aset

Dalam 12 bulan terakhir, harga emas hampir melonjak dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ini menjadi reli emas terbesar sejak dekade 1970-an, saat dunia juga berada dalam tekanan geopolitik dan krisis ekonomi global.

Tren Naik Emas Sudah Terbentuk Sejak 2019

Meski lonjakan paling tajam terjadi sepanjang 2025 hingga awal 2026, tren kenaikan emas sebenarnya bukan fenomena baru.

Sejak 2019, harga emas sudah menunjukkan arah penguatan yang konsisten. Saat itu, emas masih diperdagangkan sedikit di atas US$1.280 per troy ounce.

BACA JUGA:Emas Jadi Andalan Pengembang Kripto, Tether Tambah Kepemilikan Jumbo

Pandemi global, stimulus besar-besaran, perang, hingga ketegangan politik lintas kawasan membuat emas terus menguat secara bertahap.

Namun, fase terbaru reli emas menunjukkan akselerasi yang jauh lebih cepat dibandingkan periode sebelumnya.

Analis menilai, pergerakan emas saat ini tidak lagi bersifat spekulatif jangka pendek. Kenaikan didorong faktor fundamental yang kuat dan berlapis.

Ketidakpastian Geopolitik jadi Pemicu Utama

Lonjakan harga emas tidak bisa dilepaskan dari memburuknya kondisi geopolitik global. Ancaman terbaru datang dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: berbagai sumber