Kesalahan Umum Saat Mengatur Gaji Rp6.000.000
Sebelum membahas solusi, penting memahami kesalahan mendasar yang sering dilakukan. Kesalahan ini tampak sederhana, tetapi berdampak besar dalam jangka panjang.
Kesalahan pertama adalah tidak memiliki anggaran tertulis. Banyak orang merasa cukup mengandalkan perkiraan. Padahal, tanpa angka yang jelas, pengeluaran mudah melenceng.
BACA JUGA:Yamaha EMF Resmi Meluncur, Skuter Listrik Bergaya Robot Tempur Tampil Beda
Kesalahan berikutnya adalah menunda tabungan hingga akhir bulan. Cara ini hampir selalu gagal karena uang sudah terlanjur habis untuk kebutuhan dan keinginan.
Kesalahan lainnya adalah menggunakan tabungan untuk keperluan konsumtif. Sekali tabungan mudah diambil, kebiasaan ini akan terus berulang.
Ada juga anggapan bahwa menabung dengan nominal kecil tidak berarti. Padahal, konsistensi jauh lebih penting dibanding jumlah besar yang tidak rutin.
Skema Paling Realistis Mengelola Gaji 6 Juta
Mengelola gaji Rp6.000.000 membutuhkan sistem yang sederhana, tetapi konsisten. Skema yang terlalu rumit justru sulit dijalankan dalam jangka panjang.
Pendekatan paling realistis adalah membagi gaji ke dalam beberapa pos utama sejak awal menerima penghasilan. Dengan cara ini, setiap rupiah sudah memiliki tujuan yang jelas.
BACA JUGA:Bocoran Honda Jazz Facelift 2026, Tampang Baru Lebih Galak dan Fitur Makin Canggih
Pembagian Ideal Gaji Rp6.000.000 per Bulan
Sebagai kerangka dasar, gaji Rp 6 juta dapat dibagi menjadi tiga pos utama.
Sekitar 50 persen dialokasikan untuk kebutuhan pokok.
Sekitar 30 persen untuk tabungan dan investasi.
Sisanya 20 persen untuk gaya hidup dan hiburan.