BACA JUGA:Harga Emas Menguat di Tengah Memanasnya Tensi Geopolitik Global
Langkah ini juga sejalan dengan Visi 2030. Agenda strategis yang menargetkan transformasi ekonomi Arab Saudi dari ketergantungan hidrokarbon menuju sektor non-migas.
Kontribusi Tambang Ditargetkan Naik 4 Kali Lipat
Pemerintah Arab Saudi menargetkan kontribusi sektor pertambangan terhadap perekonomian nasional meningkat hingga empat kali lipat pada 2030.
Target ambisius ini didukung dengan berbagai insentif, regulasi baru, serta pembukaan akses bagi investor asing. Kerajaan ingin menjadikan sektor pertambangan sebagai pilar ekonomi baru.
Di sisi lain, persaingan global dalam perebutan mineral kritis juga semakin ketat. Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia kini berlomba mengamankan pasokan mineral strategis untuk masa depan energi.
BACA JUGA:Harga Emas 2026 Kian Cerah, Bank Global Prediksi Cetak Rekor Tertinggi
Dalam konteks ini, Arab Saudi muncul sebagai pemain baru yang mulai diperhitungkan.
Statusnya sebagai raksasa minyak memberi modal finansial dan geopolitik yang kuat untuk masuk ke sektor pertambangan global.
Riyadh Bidik Status Pusat Pertambangan Dunia
Konferensi pertambangan internasional yang digelar di Riyadh pekan ini menjadi bukti keseriusan Arab Saudi.
Acara tersebut dihadiri pejabat pemerintah dan eksekutif pertambangan dari berbagai negara.
Arab Saudi menargetkan diri sebagai pusat wilayah pertambangan super. Kawasan ini membentang dari Asia Tengah hingga Timur Tengah dan Afrika.
BACA JUGA:Harga Emas Diprediksi Meroket 2026, Analis UBS Bocorkan Target Fantastis
Wilayah tersebut diperkirakan menyimpan setidaknya sepertiga sumber daya alam dunia. Termasuk berbagai mineral kritis yang sangat dibutuhkan dalam transisi energi global.
Dengan penemuan cadangan emas di Makkah, ambisi Arab Saudi tidak lagi sekadar wacana. Kerajaan kini melangkah nyata menuju era baru sebagai pemain utama dalam industri pertambangan dunia.***