Momentum ini sejalan dengan meningkatnya permintaan global terhadap emas dan mineral kritis.
Terutama mineral yang dibutuhkan untuk mendukung transisi energi hijau dan industri bebas karbon.
BACA JUGA:Tren Harga Emas Antam Sepekan Terakhir, Sempat Cetak Rekor Beruntun
Arab Saudi Siap Masuk Era Gold Rush
Arab Saudi disebut akan memasuki fase gold rush sektor pertambangan mulai 2024.
Fokus utamanya adalah memanfaatkan lonjakan permintaan mineral strategis yang sangat dibutuhkan dunia.
Kerajaan bahkan hampir menggandakan estimasi nilai sumber daya mineral yang belum dimanfaatkan. Dari sebelumnya sekitar USD1,3 triliun, kini melonjak menjadi USD2,5 triliun.
Sumber daya tersebut mencakup emas, tembaga, fosfat, hingga unsur logam tanah jarang.
Seluruhnya memiliki peran vital dalam pengembangan teknologi energi terbarukan dan kendaraan listrik.
BACA JUGA:Mengenal Iridium, Logam Super Langka yang Lebih Mahal dari Emas
Sebagai langkah konkret, pemerintah Arab Saudi berencana menerbitkan lebih dari 30 lisensi eksplorasi pertambangan baru bagi investor internasional dalam tahun ini.
Mineral Kunci Transisi Energi Dunia
Permintaan global terhadap mineral kritis diperkirakan terus meningkat tajam. Salah satu contoh paling mencolok adalah tembaga.
Kebutuhan tembaga dunia diproyeksikan hampir dua kali lipat. Dari saat ini menuju 49 juta ton metrik pada 2035.
Kenaikan ini didorong oleh pembangunan infrastruktur energi terbarukan dan elektrifikasi global.
Arab Saudi melihat peluang besar di tengah kebutuhan tersebut. Kontrak-kontrak pertambangan baru diharapkan menjadi sumber modal segar bagi kerajaan, yang selama puluhan tahun bergantung pada sektor minyak.