Dalam situasi seperti ini, emas dianggap lebih netral. Tidak melekat pada negara tertentu. Dan lebih aman untuk diversifikasi cadangan.
Perang Dagang dan Kebijakan AS Picu Ketidakpastian Berkepanjangan
Selain konflik geopolitik, Hans menyebut kebijakan Amerika Serikat pada era Presiden Donald Trump, terutama terkait perang dagang, ikut menciptakan ketidakpastian yang panjang.
Ketidakpastian ini dinilai mempercepat peralihan investor. Dari yang sebelumnya menjadikan dolar AS sebagai pegangan utama, kini mulai mempertimbangkan emas sebagai alternatif yang lebih aman.
BACA JUGA:Harga Emas Makin Panas, Bank Sentral Dunia Borong Emas Besar-besaran
Bank Sentral Dunia Borong Emas, Jadi Mesin Pendorong Harga
Hans menegaskan tren pembelian emas besar-besaran oleh bank sentral menjadi katalis tambahan yang memperkuat reli.
Ia menyebut kenaikan harga emas tidak hanya dipicu geopolitik, tetapi karena dunia sedang mengalami pergeseran strategi aset.
“Kenaikan emas bukan cuma karena geopolitik, tetapi karena dunia sedang berubah, meninggalkan dolar dengan memegang emas,” ujarnya.
Ketika bank sentral ikut aktif menambah cadangan emas, permintaan naik. Pada saat yang sama pasokan tidak bertambah cepat. Kombinasi ini biasanya membuat harga semakin kuat.
Proyeksi Bank Besar: Emas Bisa Naik 20 Persen Tahun Ini
Pandangan Hans Kwee juga disebut sejalan dengan proyeksi lembaga keuangan global.
Ia menyebut beberapa institusi besar seperti: Bank of America, Goldman Sachs, dan Deutsche Bank.
Ketiganya memperkirakan emas berpotensi tumbuh sekitar 20% pada tahun ini, seiring naiknya permintaan dari sektor swasta dan institusi.
BACA JUGA:Analis Optimistis Harga Emas Terbang Tinggi ke Titik Ini
Harga Emas Dunia Pecah Rekor, Dampaknya Terasa di Indonesia