Menurut Taufik Rizani, tradisi menjelang puasa Ramadan ini harus terus dilestarikan agar tidak asing bagi generasi yang akan datang.
Kehadiran lintas generasi dalam acara juga menjadi sinyal kuat bahwa estafet pelestarian budaya Melayu di Belitung masih berjalan di jalur yang benar.
"Kegiatan ini sangat luar biasa karena dilaksanakan di gedung bersejarah. Tujuannya agar membangkitkan kesadaran masyarakat supaya peduli terhadap pelaksanaan Beruah," ucapnya.
Pelaksanaan Beruah umumnya dilakukan pada pertengahan bulan Sya'ban sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki dan kesiapan hati menyambut puasa.
BACA JUGA:Perbandingan KUR BRI vs BNI vs Mandiri 2026, Mana yang Paling Cepat Cair dan Cocok untuk UMKM?
Nilai gotong royong dan penghormatan kepada leluhur tetap menjadi pondasi kuat bagi kehidupan sosial warga di Bumi Laskar Pelangi khususnya, Negeri Serumpun Sebalai umumnya.
Dengan berakhirnya gelaran kedua ini, panitia berharap tradisi Beruah tetap menjadi identitas yang tak bisa ditawar bagi warga Belitung. Semangat menjaga marwah Melayu Belitong kini menjadi tanggung jawab bersama agar tetap hidup dan lestari selamanya.