Perbankan Perketat Prudential Measures Saat Risiko Geopolitik Global Meningkat
Ketua Umum Perbanas yang juga Direktur Utama BRI, Hery Gunardi--(Dok: BRI)
Selain itu, early warning system juga diperkuat guna mendeteksi potensi penurunan kualitas kredit sejak dini.
Langkah ini menjadi penting agar perbankan dapat mengambil tindakan lebih cepat sebelum risiko berkembang lebih besar.
BACA JUGA:Kisah Tercabaikan, Kuliner Bandung yang Naik Kelas Bersama LinkUMKM BRI
Penyaluran Kredit Lebih Selektif
Di sisi lain, perbankan juga memperketat penyaluran kredit melalui pendekatan risk-based pricing.
Pendekatan ini memungkinkan penyesuaian harga kredit berdasarkan tingkat risiko masing-masing debitur, sehingga kualitas portofolio tetap terjaga.
Langkah ini sekaligus menjadi strategi untuk menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit dan pengendalian risiko.
Penguatan juga dilakukan pada aspek likuiditas. Perbankan mengoptimalkan rasio seperti liquidity coverage ratio (LCR) dan net stable funding ratio (NFSR) untuk memastikan ketersediaan dana tetap aman.
Di sisi lain, eksposur terhadap nilai tukar juga dikelola lebih konservatif.
BACA JUGA:Perbandingan KUR BRI vs BNI vs Mandiri 2026, Mana yang Paling Cepat Cair dan Cocok untuk UMKM?
Strategi lindung nilai diterapkan, disertai pengendalian posisi devisa neto untuk mengurangi dampak fluktuasi kurs.
“Langkah-langkah ini penting untuk memastikan fungsi intermediasi tetap berjalan optimal tanpa mengabaikan stabilitas,” kata Hery.
Dengan berbagai langkah tersebut, industri perbankan diharapkan tetap resilien di tengah tekanan global.
Penguatan prudential measures menjadi kunci agar sektor perbankan tetap mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Di tengah ketidakpastian yang masih tinggi, keseimbangan antara ekspansi dan kehati-hatian menjadi strategi utama.
Perbankan tidak hanya dituntut tumbuh, tetapi juga harus mampu bertahan menghadapi risiko yang terus berkembang. (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: