Tips KPR Rumah 2026 Agar Cicilan Tak Memberatkan, Ini Cara Hitung yang Aman
Ilustrasi rumah dan dokumen KPR--(Foto: Pixabay)
Riwayat kerja stabil memberi sinyal bahwa calon debitur memiliki kemampuan membayar cicilan dalam jangka panjang.
Sementara bagi wirausaha atau freelancer, usaha yang telah berjalan setidaknya tiga tahun dengan laporan keuangan positif akan menjadi nilai tambah di mata bank.
Penghasilan besar memang terlihat menggiurkan, tetapi tanpa stabilitas yang jelas, risikonya tetap tinggi dalam proses analisis kredit.
3. Rapikan Utang Konsumtif
Sebelum mengajukan KPR, kondisi utang konsumtif juga perlu dirapikan dengan serius.
Jangan sampai masih ada tunggakan paylater, kartu kredit macet, pinjaman online belum lunas, atau cicilan kendaraan yang terlalu membebani.
Semua kewajiban finansial tersebut akan masuk dalam perhitungan bank saat menilai kelayakan kredit.
Bagi analis kredit, yang dilihat bukan hanya besarnya cicilan rumah, tetapi total beban utang yang harus ditanggung setiap bulan.
Semakin ringan beban cicilan, semakin besar pula peluang KPR disetujui dengan plafon dan bunga yang lebih kompetitif.
BACA JUGA:Cara Kredit Rumah Pakai Saldo JHT BPJS Ketenagakerjaan, Ini Panduan Lengkapnya
Menentukan Batas Cicilan yang Aman di 2026
Salah satu kesalahan paling umum calon debitur adalah memaksakan cicilan terlalu besar demi rumah impian.
1. Aturan Bank vs Realita Hidup
Dalam perencanaan KPR, penting memahami perbedaan antara aturan bank dan realita kehidupan sehari-hari.
Secara umum, bank masih mengizinkan rasio cicilan hingga 40 persen dari penghasilan. Di atas kertas, angka ini terlihat aman. Namun dalam praktiknya, porsi sebesar itu sering kali terlalu berisiko jika dijalankan tanpa perhitungan matang.
Sedikit saja terjadi kenaikan biaya hidup, mulai dari kebutuhan rumah tangga, pendidikan, hingga kesehatan, kondisi keuangan bisa langsung tertekan. Ruang untuk menabung pun semakin sempit.
2. Pendekatan 30 Persen yang Lebih Sehat
Karena risiko tersebut, banyak perencana keuangan merekomendasikan pendekatan yang lebih konservatif. Yakni membatasi cicilan maksimal 30 persen dari penghasilan bulanan. Pola ini dinilai lebih aman, terutama ketika bunga floating mulai naik setelah masa fixed berakhir.
Dengan porsi cicilan yang lebih proporsional, masih tersedia ruang untuk menabung, membangun dana darurat, serta menjaga keseimbangan hidup tanpa harus terus berada dalam tekanan finansial.
3. Penyesuaian di Kota Besar
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: