Fauzan mengungkapkan, para pelaku membeli BBM subsidi dari penyuplai dengan harga Rp8.800–Rp9.200 per liter. Solar tersebut kemudian ditimbun dan dijual kembali ke pihak industri seharga Rp10.500–Rp14.000 per liter.
"Ini jelas pelanggaran. BBM subsidi seharusnya untuk masyarakat kecil, bukan untuk diperjualbelikan dengan harga industri," tegasnya.
BACA JUGA:Pakai Chrome di iPhone? Apple Peringatkan Bahaya Besar Ini!
BACA JUGA:Modus Mafia Solar Subsidi di Belitung: Pertamina Tegaskan PT Ini Bukan Agen BBM Industri Resmi
Ia menambahkan, saat ini penyelidikan oleh Ditreskrimsus Polda Babel terus berlanjut, termasuk mendalami jaringan pemasok BBM ilegal dari hulu ke hilir.
"Kami berkomitmen memberantas penyalahgunaan distribusi BBM subsidi yang merugikan negara dan masyarakat," tutup Fauzan.
Latar Belakang: Modus Mafia BBM di Belitung
Sebelumnya, aparat Polda Babel mengungkap modus mafia BBM subsidi yang bermain di Belitung. Penggerebekan dilakukan berdasarkan laporan informasi bernomor LI/109/IV/RES.5/2024/Reskrim yang diterima pada 15 April 2025, dan diperkuat pemberitaan media Belitong Ekspfres.
Para pelaku diketahui membeli solar subsidi dari penyuplai (para pengerit) untuk dijual ke sektor industri dengan harga tinggi, menyimpang dari peruntukan seharusnya untuk masyarakat.
BACA JUGA:Terduga Mafia BBM di Belitung Ditangkap Polisi, Ini Kata Dirkrimsus Polda Babel
Faisal alias F, seorang oknum aparat, sebelumnya juga sempat mencuat sebagai beking dari Andre dalam praktik bisnis ilegal ini. Namun hingga kini, baik Ongsi maupun Faisal belum memberikan tanggapan.***