Selain faktor moneter, lonjakan harga emas dalam beberapa hari terakhir juga dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik global. Awalnya, perhatian pasar tertuju pada konflik di Venezuela yang sempat memanas.
Namun ketegangan tersebut mulai mereda setelah adanya kerja sama antara Pelaksana Tugas Presiden Venezuela dengan Amerika Serikat. Di sisi lain, fokus geopolitik justru bergeser ke kawasan Timur Tengah, khususnya Iran.
Situasi di Eropa juga turut memperkeruh sentimen global. Upaya gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina yang dimediasi Amerika Serikat dilaporkan gagal total.
Ketegangan meningkat setelah Ukraina melakukan serangan ke wilayah Moskow, termasuk kawasan yang disebut sebagai kediaman Presiden Rusia Vladimir Putin.
BACA JUGA:Harga Emas Diprediksi Meroket 2026, Analis UBS Bocorkan Target Fantastis
Sebagai respons, Rusia terus melancarkan serangan balasan ke sejumlah kota besar Ukraina. Serangan dilakukan menggunakan misil jarak jauh dalam skala besar, termasuk menyasar wilayah ibu kota.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran baru di pasar global. Risiko meluasnya konflik Eropa dinilai semakin tinggi dan menimbulkan kekhawatiran akan potensi konflik global yang lebih besar.
Di sisi lain, faktor politik domestik Amerika Serikat juga turut mempengaruhi sentimen pasar. Pada kuartal pertama tahun ini, Amerika diperkirakan akan menggelar pemilu sela untuk kursi DPR.
Pemilu sela tersebut diprediksi akan dimenangkan oleh Partai Demokrat. Ketidakpastian politik ini mendorong investor global kembali melirik aset safe haven seperti emas.
BACA JUGA:Bukan Emas atau Minyak, Data Center Jadi Harta Karun Bernilai Rp1.000 Triliun
Dengan kombinasi sentimen moneter, geopolitik, dan politik global, harga emas dunia diproyeksikan tetap bergerak volatil namun cenderung menguat dalam sepekan ke depan.
Oleh karena itu, investor disarankan mencermati level support dan resistance sebagai acuan strategi transaksi.***