Bos Microsoft Wanti-wanti Ancaman Bubble AI, Ungkap Risiko Bencana Besar

Jumat 23-01-2026,23:57 WIB
Reporter : Redaksi BE
Editor : Redaksi BE

BELITONGEKSPRES.CO.ID - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) melaju sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir.

Teknologi ini mulai masuk ke berbagai sektor, dari bisnis, kesehatan, pendidikan, hingga industri kreatif.

Namun di balik pertumbuhan pesat tersebut, CEO Microsoft Satya Nadella mengingatkan adanya potensi bahaya besar.

Jika pemanfaatan AI tidak menyebar secara merata, teknologi ini berisiko berubah menjadi bubble atau gelembung spekulatif.

Peringatan tersebut disampaikan Nadella dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos. Ia menegaskan bahwa AI tidak boleh hanya dinikmati perusahaan teknologi raksasa dan negara maju.

AI Berisiko Jadi Gelembung Jika Manfaatnya Tidak Merata

Menurut Satya Nadella, sebuah teknologi bisa disebut sebagai bubble ketika hanya segelintir pihak yang memperoleh keuntungan.

BACA JUGA:10 Ide Bisnis 2026 Perputaran Uang Cepat, Modal Kecil, Untung Harian Menjanjikan

Jika AI hanya dimonopoli oleh kelompok tertentu, maka pertumbuhannya tidak akan berkelanjutan.

“Agar tidak dianggap seperti gelembung, manfaatnya harus lebih merata,” ujar Nadella, dikutip dari Financial Times, Jumat (23/1/2026).

Ia menilai adopsi AI harus menjangkau sektor-sektor penting seperti kesehatan, manufaktur, pertanian, pendidikan, hingga layanan publik.

Dengan distribusi yang lebih luas, AI akan menciptakan dampak ekonomi nyata, bukan sekadar hype teknologi.

AI Dinilai Mampu Mengubah Banyak Industri

Nadella menegaskan bahwa AI memiliki potensi transformatif yang sangat besar.

Salah satu contohnya adalah di bidang kesehatan. Teknologi AI kini mulai dimanfaatkan untuk riset medis dan pengembangan obat-obatan baru.

Kategori :