Pada November lalu, perusahaan memperkirakan dampak tarif tersebut dapat membebani kinerja hingga 1,45 triliun yen atau sekitar Rp152 triliun pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2026.
Laba Tetap Menguat di Tengah Tekanan
Menariknya, di tengah tantangan tersebut, Toyota justru menaikkan proyeksi laba operasional setahun penuh.
Langkah ini didukung oleh pengendalian biaya yang ketat serta kuatnya permintaan di luar pasar Amerika Serikat.
Dalam laporan terpisah, analis yang dikutip Reuters memperkirakan laba operasional Toyota akan pulih hampir 30 persen pada kuartal ketiga tahun fiskal ini dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
BACA JUGA:Fix! Toyota Umumkan Harga Veloz Hybrid di IIMS 2026, Mobil HEV Keluarga Termurah
Tarif AS Tekan Pesaing Toyota
Dampak tarif Amerika Serikat terlihat lebih berat dirasakan para pesaing Toyota. Hyundai Motor melaporkan pertumbuhan pendapatan global lebih dari 6 persen pada 2025, berkat penjualan kendaraan hibrida di AS.
Namun, laba operasional perusahaan asal Korea Selatan itu justru anjlok 19,5 persen. Hyundai menyebut bea masuk AS menyebabkan kerugian sekitar 4,1 triliun won atau setara Rp49 triliun.
Korea Selatan dan AS memang telah menyepakati penurunan tarif mobil menjadi 15 persen sejak November.
Namun, Trump kembali mengancam menaikkan tarif menjadi 25 persen dengan alasan parlemen Seoul dinilai lamban menerapkan kesepakatan tersebut. Ancaman ini menekan saham Hyundai yang turun hampir 5 persen.
Berbeda dengan Toyota, Hyundai masih sangat bergantung pada impor. Sepanjang 2025, hanya sekitar 40 persen mobil Hyundai yang dijual di AS diproduksi secara lokal.
Sebagai perbandingan, Toyota hanya mengandalkan impor untuk sekitar 20 persen penjualannya di AS. Perusahaan terus memperluas basis manufaktur lokal, terutama untuk kendaraan hibrida.
BACA JUGA:Wajah Baru Toyota Raize 2026, Desain Makin Sporty dan Fitur Semakin Canggih
Kepercayaan Investor Tetap Kuat
Di pasar modal, kepercayaan investor terhadap Toyota tetap solid. Saham Toyota tercatat melonjak sekitar 3 persen dalam perdagangan Kamis, menjelang rilis laporan kinerja kuartal ketiga fiskal yang dijadwalkan pada 6 Februari mendatang.
Dengan penjualan global yang kembali mencetak rekor, Toyota menunjukkan ketahanan bisnisnya di tengah tekanan geopolitik dan kebijakan perdagangan global yang kian kompleks.***