Itu terkait rencana mencaplok Greenland dan pemberlakuan tarif terhadap pihak yang menentang kebijakan tersebut. Alhasil memicu ketegangan baru antara Amerika Serikat dan Uni Eropa.
Situasi ini diperburuk oleh intervensi militer AS di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan penggulingannya dari kekuasaan.
Langkah tersebut menimbulkan kecemasan baru terkait stabilitas politik Amerika Latin.
Sebelumnya, sepanjang 2025, pasar juga dihantui konflik berkepanjangan di Ukraina dan Gaza.
Ketidakpastian di kawasan Timur Tengah dan Eropa Timur terus menekan sentimen risiko global.
Dalam kondisi seperti ini, emas kembali memainkan peran klasiknya sebagai aset safe haven.
BACA JUGA:Harga Emas Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa, Pakar Prediksi Tembus US$ 5.150
Dan Coatsworth, Kepala Pasar di AJ Bell, mengatakan kepada DW bahwa reli emas mencerminkan sikap defensif investor global.
Menurutnya, investor memilih bertahan pada aset perlindungan karena risiko kebijakan yang sulit diprediksi.
Ia menyebut, banyak pelaku pasar merasa perlu tetap “berlindung”, karena ketidakpastian dapat muncul kapan saja dari keputusan politik yang kontroversial.
Kemerosotan Kondisi Global Dorong Peralihan Aset
Pandangan serupa disampaikan analis DZ Bank di Frankfurt, Thomas Kulp.
Dalam catatannya, ia menegaskan bahwa pencarian aset safe haven saat ini menjadi pendorong terkuat di pasar emas.
BACA JUGA:Harga Emas Antam Cetak Rekor Baru dalam Sepekan, Ini Rinciannya
Kulp menyoroti serangkaian peristiwa global, mulai dari konflik geopolitik, penindasan demonstrasi di Iran, hingga sengketa wilayah Greenland.
Ia menilai kondisi geopolitik global mengalami kemerosotan yang nyata.
Situasi ini mendorong investor ritel maupun institusi untuk meningkatkan porsi emas dalam portofolio mereka.