Kondisi ini membuka ruang bagi harga emas untuk melanjutkan penguatannya.
Masuknya Investor Baru Memperkuat Reli
Lonjakan harga emas juga tidak lepas dari masuknya investor baru ke pasar.
Permintaan terhadap exchange-traded fund berbasis emas mengalami peningkatan tajam.
Produk ini memungkinkan investor mendapatkan eksposur emas tanpa harus menyimpan fisik logam mulia.
BACA JUGA:Mengenal Iridium, Logam Super Langka yang Lebih Mahal dari Emas
Analis Deutsche Bank mencatat, saat ini pasar emas didorong oleh dua sumber pembeli agresif. Bank sentral dan investor ETF.
Bank sentral di berbagai negara telah lama menjadi pembeli emas untuk diversifikasi cadangan devisa.
Namun, masuknya kembali investor ETF dalam skala besar menciptakan dorongan tambahan yang signifikan.
Menurut laporan World Gold Council, hingga akhir Desember 2025, total aset kelolaan ETF emas global melonjak dua kali lipat menjadi US$559 miliar. Atau sekitar Rp9,36 kuadriliun.
Angka tersebut menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah pasar emas global.
World Gold Council menyebut reli harga emas didorong kombinasi permintaan safe haven, momentum buying karena tren harga naik, serta pelemahan dolar AS.
BACA JUGA:Harga Emas Menguat di Tengah Memanasnya Tensi Geopolitik Global
Prospek Harga Emas Sepanjang 2026
Memasuki 2026, sebagian besar analis masih melihat ruang penguatan harga emas.
World Gold Council menilai prospek emas tahun ini tetap sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik dan arah kebijakan moneter global.
Jika pertumbuhan ekonomi global melambat dan suku bunga turun lebih jauh, harga emas berpotensi naik secara moderat.
Tapi, jika perlambatan ekonomi lebih dalam dan ketidakpastian geopolitik meningkat, emas bisa mencetak rekor baru yang lebih tinggi.