Timah juga menjadi proksi spekulasi baru bagi investor yang ingin memanfaatkan tren kecerdasan buatan atau AI.
Banyak pelaku pasar memperpanjang kontrak sebagai taruhan atas ekspansi teknologi global.
BACA JUGA:Honda Jazz 2026 Meluncur dengan Tampang Sangar, dan Harga Mengejutkan
Lonjakan spekulasi terlihat jelas di pasar Shanghai, Tiongkok.
Volume perdagangan bahkan menembus satu juta ton dalam satu sesi pada pekan pertama Januari, lebih dari dua kali lipat konsumsi fisik timah dunia dalam setahun.
Kondisi ini memicu peringatan otoritas terkait praktik “mengikuti tren secara membabi buta”.
Sebagian perusahaan perdagangan frekuensi tinggi pun dilarang masuk pasar.
Pasokan Global Tertekan, Indonesia Jadi Faktor Kunci
Dari sisi pasokan, ketidakpastian masih membayangi pasar timah global. Salah satu pemicunya datang dari Indonesia.
BACA JUGA:Investasi Emas dan Deposito untuk Pemula di 2026, Lebih Aman Mana?
Presiden Subianto memerintahkan penutupan sekitar 1.000 tambang timah ilegal di Sumatra.
Langkah ini menurunkan produksi dari salah satu pemasok terbesar dunia. Kebijakan tersebut berdampak langsung pada persepsi pasar.
Pasokan yang makin ketat membuat harga timah semakin sensitif terhadap sentimen global.
Harga Timah Kontrak Masih Menguat
Untuk kontrak tiga bulan, harga timah masih mencatat kenaikan signifikan.
Per Selasa, 27 Januari 2026, harga kontrak berada di level USD 55.700 per ton. Secara year to date, harga timah naik 32,62 persen.
BACA JUGA:Penyebab Harga Emas Terus Meroket di 2026 Terungkap
Namun secara tahunan, masih tercatat turun tipis sekitar 0,26 persen. Sepanjang 2026, harga rata-rata timah berada di kisaran USD 49.000 per ton.