Bitcoin Gagal Tembus US$90.000, Kenapa Harga Masih Seret?

Sabtu 24-01-2026,15:16 WIB
Reporter : Yudiansyah
Editor : Yudiansyah

Analis terkemuka Axel Adler menyoroti indikator makro bernama Trend Pulse untuk menjelaskan mengapa momentum Bitcoin belum pulih.

Adler mencatat bahwa sejak 19 Januari, pasar masih berada dalam Bear Mode. Ia juga menekankan bahwa fase Bull tidak muncul selama 83 hari berturut-turut.

Dua grafik terpisah memperkuat sinyal ini. Keduanya menunjukkan momentum jangka pendek berbalik melemah, dan kinerja kuartalan ikut berbalik negatif di waktu yang sama.

Dengan kata lain, ini bukan sekadar penurunan biasa. Ada tekanan struktural yang membuat BTC sulit menguat.

BACA JUGA:7 Cara Investasi Bitcoin Modal Kecil untuk Pemula: Aman dan Mudah Mulai 10 Ribu

Bear Mode Menguat, Dua Sinyal Negatif Muncul Bersamaan

Trend Pulse disebut bergeser dari Netral ke Bear karena munculnya dua konfigurasi negatif sekaligus. 

Imbal hasil 14 hari berubah merah (negatif), dan sinyal tren SMA30 terhadap SMA200 berada di zona negatif

Sementara itu, imbal hasil kuartalan Bitcoin tercatat di -19%, yang semakin menegaskan bahwa kondisi makro masih lemah.

Meski demikian, angka ini dinilai belum masuk kategori ekstrem yang biasanya menjadi penanda dasar market bearish.

Sinyal Bull Terakhir Muncul Saat BTC Masih di US$110.000

Adler juga mencatat, terakhir kali sinyal Bull Mode muncul adalah pada 2 November 2025, saat Bitcoin masih diperdagangkan di sekitar US$110.000.

Artinya, sejak saat itu pasar belum mampu memulihkan kekuatan struktural.

Bahkan fase Netral yang sempat terjadi pada 30 Desember hingga 18 Januari dianggap terlalu singkat dan terlalu lemah untuk memulihkan tren jangka panjang. Akibatnya, Bitcoin kembali rentan saat tekanan jual naik.

Apa Syarat Bitcoin Bisa Balik Bullish Lagi?

Menurut Adler, pemicu awal perbaikan adalah ketika imbal hasil 14 hari kembali naik ke atas nol. Itu akan membantu menggeser kondisi pasar dari Bear menjadi Netral.

Kategori :