Namun untuk kembali benar-benar masuk ke Bull Mode, diperlukan syarat berikutnya: SMA30 menembus ke atas SMA200.
BACA JUGA:3 Cara Trading Bitcoin untuk Pemula November 2025, Panduan Lengkap Tanpa Ribet
Dengan jarak kedua moving average saat ini, persilangan tersebut diperkirakan membutuhkan reli yang konsisten selama 3–4 pekan, bukan sekadar rebound sesaat.
Imbal Hasil Kuartalan Bitcoin Masih Negatif, Tapi Belum Kapitulasi
Grafik kinerja harga Bitcoin juga menampilkan konteks makro melalui imbal hasil kuartalan (90 hari) sebagai proksi sentimen pasar.
Dalam sejarah pergerakan Bitcoin: imbal hasil di atas +75% sering mencerminkan euforia, imbal hasil di bawah 0% menandakan pesimisme, dan imbal hasil di bawah -30% sering dianggap sebagai fase kapitulasi.
Saat ini, imbal hasil kuartalan berada di sekitar -19%. Masih negatif, tetapi belum ekstrem.
Namun yang patut dicermati adalah perubahan 7 hari sebesar -6,8%, yang memberi sinyal bahwa momentum penurunannya makin cepat setelah BTC tembus di bawah US$90.000.
Kesimpulannya, Trend Pulse dan imbal hasil kuartalan menunjukkan pesimisme moderat, tapi belum masuk fase “panic sell” besar-besaran.
Struktur Harga: Bitcoin Masih Lower High, Sulit Bangun Momentum
Bitcoin masih bergerak di sekitar US$89.000, setelah gagal bertahan di atas US$90.000. Polanya memperkuat kesan bahwa pasar sedang bimbang.
Struktur grafik menunjukkan terbentuk lower high sejak puncak awal November, terjadi aksi jual tajam, dan harga masuk ke fase konsolidasi cukup lebar.
Setelah sempat menyentuh dasar pada akhir November, BTC memang sempat rebound. Namun rebound tersebut belum cukup kuat untuk membangun tren naik yang berkelanjutan.
Bitcoin juga berulang kali tertahan ketika mencoba menembus area US$95.000-an.
BACA JUGA:Rekomendasi 6 Aplikasi Trading Bitcoin Terbaik di Indonesia untuk Pemula
Bitcoin Masih di Bawah Moving Average, Momentum Cenderung Bearish