Remaja dan Ilusi 'Keren' Merokok

Remaja dan Ilusi 'Keren' Merokok

Vilenko Jocendo--

Oleh: Vilenko Jocendo (Siswa Kelas Sosioliterasi G4 SMAN 1 Manggar)

REMAJA merupakan masa transisi dari anak anak menuju dewasa. Yakni, kondisi psikologis dan pikiran pada remaja masih labil. Hal ini menyebabkan banyak remaja melakukan sesuatu hal baru atau tantangan yang tak jarang bertentangan dengan norma dan moral. Salah satu hal yang bertentangan tersebut adalah merokok.

Remaja zaman sekarang mudah untuk mendapatkan hal semacam ini. Hanya berbekal uang lima ribuan, mereka bisa mendapatkan sebatang rokok dan korek yang banyak dijual di toko-toko. Peredaran rokok pada remaja juga bisa didapatkan dari pergaulan. 

Pergaulan membuat beberapa orang remaja di dalamnya bekerja sama untuk mendapatkan hal-hal seperti itu. Mereka juga cenderung saling melindungi satu sama lain untuk menutupi perilaku menyimpang tersebut. 

Menurut Peraturan Kementerian Kesehatan Nomor 28 Tahun 2018, rokok adalah salah satu produk olahan tembakau yang dimaksudkan untuk dibakar, dihisap, atau dihirup, termasuk rokok kretek, rokok putih, cerutu, atau bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman nicotiana tabcum, nicotiana rustica, dan spesies lainnya atau sintetisnya. Orang yang merokok ini disebut dengan perokok.

BACA JUGA:Menyikapi Viralnya Permainan Lato-Lato Bagi Siswa SD

Kandungan pada rokok seperti karbon monoksida, nikotin, tar, dan zat-zat berbahaya lainnya menyebabkan banyak dampak negatif bagi tubuh seperti kecanduan. Tidak hanya itu, rokok juga berpengaruh ke kehidupan sosial maupun ekonomi perokok tersebut. Perokok ini lingkupnya sangat luar biasa, termasuk juga para remaja di dalam lingkarannya.

Perilaku merokok pada remaja tidak lepas dari faktor-faktor yang mendorong para remaja untuk melakukan perilaku tersebut. Faktor-faktornya yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berasal dari pola pikir dan identitas diri yang menganggap bahwa merokok adalah hal yang “keren” dan juga sebagai tolok ukur dewasanya seseorang. 

Mereka juga beranggapan bahwa merokok dapat menghilangkan stres dan rasa bosan. Sedangkan, faktor eksternal remaja merokok adalah pergaulan yang kurang baik, lingkungan yang penuh dengan perokok, permasalahan keluarga, ataupun kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang tua.

Banyak dampak buruk bagi remaja yang timbul akibat merokok. Contohnya, mereka akan mengalami gejala kurang fokus belajar dan sulit memahami pelajaran karena mengalami gangguan kecemasan. Selain itu, merokok juga dapat membuat remaja untuk berbohong kepada orang tua, karena mereka cenderung akan menutupi perilaku mereka tersebut.

Dampak merokok lainnya adalah kesehatan yang menurun. Sudah menjadi pengetahuan umum kalau merokok dapat menyebabkan berbagai macam penyakit, khususnya kanker paru-paru, kanker tenggorokan, kanker mulut, penyakit paru obstruktif kronik, penyakit jantung koroner, merusak gigi, menyebabkan bau mulut yang tidak sedap, gangguan pembuluh darah, penurunan kesuburan, penurunan IQ dan masih banyak lagi.

BACA JUGA:Bahaya Bully Bagi Siswa SD dan Cara Pencegahannya

Pada zaman sekarang, peredaran rokok pada remaja sangat mudah untuk diakses. Hal tersebut karena meningkatnya perkembangan teknologi dan arus globalisasi zaman sekarang. Para remaja bisa mendapatkan rokok melalui berbagai macam cara, seperti dari usaha diri sendiri ataupun bantuan orang lain. 

Selain itu, penggunaan internet pada zaman sekarang memudahkan remaja untuk memilih maupun membeli berbagai jenis rokok, baik rokok biasa maupun rokok elektrik. 

Sumber: