Fakta Baru di Balik Perdamaian Guru SD Tanjungpandan Tampar Murid, Orang Tua Buat Pengakuan Mengejutkan

Fakta Baru di Balik Perdamaian Guru SD Tanjungpandan Tampar Murid, Orang Tua Buat Pengakuan Mengejutkan

Rapat dengar pendapat (RDP) membahas oknum guru SD tampar murid yang digelar Komisi III DPRD Belitung, Selasa sore (16/8)-Reza/BE-

BELITONGEKSPRES.CO.ID, TANJUNGPANDAN - Fakta baru di balik perjanjian damai Guru SD Tanjungpandan tampar murid terungkap saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPRD Kabupaten Belitung, Selasa sore (16/8).

Sulastri selaku orang tua murid SD Negeri 33 Tanjungpandan, korban tindak kekerasan guru inisial FH membuat pengakuan mengejutkan. 

Dia menandatangani surat perjanjian damai dengan guru SD yang menampar anaknya dalam keadaan tertekan dan tidak berfikir jernih.

"Waktu menandatangi surat perjanjian damai itu, saya dalam keadaan tertekan dan saya tidak bisa berfikir jernih," sebut Sulastri orang tua korban.

BACA JUGA:Pertemuan 4 Mata Hary Tanoesoedibjo dan Prabowo, Bahas Potensi Kolaborasi Politik

Sulastri menceritakan pada hari Sabtu (13/8) lalu ia mengetahui tidak kekerasan yang dialami anaknya. Kemudian ia melaporkan hal tersebut ke pihak sekolah.

Semula Sulastri ingin membawa masalah tindak kekerasan oleh oknum guru olahraga ke jalur hukum. Namun pihak sekolah menawarkan jalan damai.

Karena tidak mengerti hukum, lantas ia menerima tawaran perdamaian tersebut. Bahkan ia menandatangani surat perdamaian tanpa sepengetahuan suami.

"Saya tidak mengerti hukum. Kemudian saya tanda tangani surat damai itu. Saya tanda tangan itu tanpa sepengetahuan suami saya. Dan karena hal itu suami saya menjadi marah," bebernya.

BACA JUGA:Bahaya! Jalan Murai Nyaris Putus, DPUPR Belitung Terkendala Arus Deras untuk Perbaikan

Oleh sebab itu, Sulastri bakal mencabut surat perjanjian damai tersebut dan akan melaporkan kasus tindak kekerasan itu ke Polres Belitung.

Menurut dia, saat ini kondisi anaknya dalam keadaan baik. Akan tetapi, anaknya sempat mengeluh ingin pindah sekolah akibat peristiwa itu.

"Pada waktu kejadian saya sempat sedih dan menangis, karena sang anak tidak mau sekolah dan ingin pindah ke tempat lainnya," tutupnya.

Sementara itu ayah korban Gunawan juga merasa kecewa. Dia tidak terima atas perilaku guru FH kepada anaknya.

Sumber: